Apa itu Sentralisasi dan Desentralisasi?

Sentralisasi adalah sebuah bentuk organisasi atau aktivitas yang memiliki suatu entitas pusat (sentral) yang di mana seluruh keputusan atau kewenangan berada di tangan entitas pusat (sentral).

Sedangkan Desentralisasi adalah sebuah bentuk organisasi atau aktivitas yang tidak memiliki suatu entitas pusat atau tersebar ke banyak entitas (desentral) yang di mana seluruh keputusan atau kewenangan tidak berada di tangan entitas pusat (sentral).

Blockchain sendiri adalah teknologi yang di desain untuk mendukung desentralisasi dengan cara mendistribusikan seluruh data ke banyak entitas (desentral) sehingga membuat semua partisipan dalam sistem jaringan (network) dapat berpartisipasi tanpa harus meminta persetujuan (autorisasi) dari entitas pusat (sentral).

Cryptocurrency (mata uang crypto) Bitcoin adalah implementasi paling pertama dari blockchain. Di mana “Proof of work” digunakan untuk membangun konsensus yang terdesentralisasi atau biasa disebut dengan konsensus Nakamoto.

Salah satu kelebihan utama dari desentralisasi dalam blockchain adalah keamanan. Di mana semua data yang sudah tersimpan dan didistribusikan ke banyak entitas itu bersifat final dan tidak bisa diubah sembarangan tanpa persetujuan dari mayoritas entitas tersebut.

Contoh: Akan lebih mudah untuk oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hacking terhadap sesuatu yang bersifat terpusat (sentralisasi). Karena dia hanya perlu melakukan hacking ke pusat (sentral). Sedangkan untuk hacking terhadap sesuatu yang bersifat tidak terpusat (desentralisasi) maka dia harus melakukan hacking terhadap mayoritas entitas yang ada di dalam sistem jaringan tersebut.

Lalu bagaimana cara suatu sistem yang terdesentralisasi melakukan pengambilan keputusan?

Keputusan dapat diambil apabila mayoritas dari entitas yang ada di dalam sistem jaringan tersebut sudah memberikan persetujuan untuk mengambil keputusan tersebut. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sistem sentralisasi yang di mana seluruh keputusan itu berada di tangan entitas pusat (sentral).

Namun bukan berarti sistem yang bersifat desentralisasi itu tidak memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan utama dari desentralisasi itu adalah apabila ada sebuah entitas menguasai mayoritas entitas yang ada di dalam sistem jaringan tersebut, maka entitas tersebut dapat mempengaruhi seluruh keputusan yang akan diambil. Ini biasanya lebih dikenal dengan istilah “51% attack”.

Sebagai contoh 51% Attack yang pernah terjadi adalah pada saat Bitcoin Gold Hardfork di bulan Mei 2018. Pelaku melakukan serangan dengan mengendalikan sejumlah besar kekuatan hashing Bitcoin Gold dan berhasil melipatgandakan pengeluaran koin selama beberapa hari. Ia pun berhasil mencuri lebih dari $18 juta Bitcoin Gold.

Was this post helpful?